Penerapan Alat Peraga Sistem Peredaran Darah untuk Menumbuhkan Berpikir Kritis
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan berpikir kritis siswa kelas 5 SDIT Ulul Albab 1 Purworejo melalui penerapan pembelajaran berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) pada materi sistem peredaran darah. Metode
penelitian kualitatif deskriptif digunakan untuk menggambarkan secara mendalam dinamika pembelajaran, dengan fokus pada interaksi kelompok, kreativitas, dan proses konstruksi pengetahuan. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif terhadap 28 siswa yang terbagi dalam 5 kelompok, wawancara semi-terstruktur dengan guru dan siswa, serta analisis dokumen LKPD. Hasil penelitian menunjukkan variasi kemampuan antarkelompok: Kelompok 1 unggul dalam analisis konsep mampu mengidentifikasi organ, Kelompok 2 dan 5 menonjol dalam kreativitas dan kolaborasi, sementara Kelompok 3 dan 4 menunjukkan perkembangan signifikan dalam kepercayaan diri melalui scaffolding. Sehingga dapat dilihat integrasi seni meningkatkan keterlibatan siswa sebesar 25%, dan adanya pola kepemimpinan alami dalam kelompok. Wawancara mengungkap siswa merasa metode STEAM lebih menyenangkan, meskipun implementasinya memerlukan diferensiasi pembelajaran. Penelitian ini memperkuat teori Vygotsky (1978) tentang ZPD dalam konteks STEAM, sekaligus memberikan rekomendasi praktis untuk: (1) Desain proyek interdisipliner yang memicu curiosity, (2) Peningkatan kapasitas guru dalam teknik scaffolding, dan (3) Pengembangan alat asesmen autentik berbasis proses.
penelitian kualitatif deskriptif digunakan untuk menggambarkan secara mendalam dinamika pembelajaran, dengan fokus pada interaksi kelompok, kreativitas, dan proses konstruksi pengetahuan. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif terhadap 28 siswa yang terbagi dalam 5 kelompok, wawancara semi-terstruktur dengan guru dan siswa, serta analisis dokumen LKPD. Hasil penelitian menunjukkan variasi kemampuan antarkelompok: Kelompok 1 unggul dalam analisis konsep mampu mengidentifikasi organ, Kelompok 2 dan 5 menonjol dalam kreativitas dan kolaborasi, sementara Kelompok 3 dan 4 menunjukkan perkembangan signifikan dalam kepercayaan diri melalui scaffolding. Sehingga dapat dilihat integrasi seni meningkatkan keterlibatan siswa sebesar 25%, dan adanya pola kepemimpinan alami dalam kelompok. Wawancara mengungkap siswa merasa metode STEAM lebih menyenangkan, meskipun implementasinya memerlukan diferensiasi pembelajaran. Penelitian ini memperkuat teori Vygotsky (1978) tentang ZPD dalam konteks STEAM, sekaligus memberikan rekomendasi praktis untuk: (1) Desain proyek interdisipliner yang memicu curiosity, (2) Peningkatan kapasitas guru dalam teknik scaffolding, dan (3) Pengembangan alat asesmen autentik berbasis proses.
Refbacks
- There are currently no refbacks.
